Top Secret di Zamannya : Operasi Alpha

    • TOP SECRET: “Operasi Alpha” Sangat Rahasia Era Rezim Orde Baru, Terkuak!

      classified header

      Top Secret Terkuak!
      “Operasi Alpha” Saat Rezim Orde Baru

      “Operasi Alpha” (Alpha Operation), TNI-AU Melakukan Pembelian 32 Pesawat A4 Skyhawk Secara Rahasia Dari Israel.
      Alpha operation Indonesian Air forces A-4_TNI-AU header
      “Mengecewakan! Rencana terbang yang susah payah sudah kususun rapi, langsung dibatalkan pagi-pagi. Aku mendapat perintah untuk menghadap komandan skadron. Yang terpikir, aku tidak lulus latihan terbang di Israel dan pulang ke Indonesia sebagai pilot pesakitan.
      Semua bayangan buruk musnah sudah. Aku ternyata menerima perintah baru untuk terbang dalam format sama, tetapi berbeda rute. Sebuah peta disodorkan lengkap dengan titik-titik rute.
      Ada sebuah garis merah yang wajib diterobos masuk dan dalam waktu dua belas menit harus kembali ke luar. Yang membuatku gugup, garis merah itu adalah garis perbatasan antara Israel dan Suriah”.
      Cerita diatas adalah sepenggal kisah dari seorang pilot yang tergabung dalam Operasi Alpha (Operation Alpha), yaitu operasi clandestine (operasi gelap, diam-diam dan sangat rahasia) terbesar yang dilakukan oleh TNI AU, dimana TNI AU melatih pilot dan melakukan pembelian 32 pesawat A-4 Skyhawk dari Israel.
      Berikut adalah kutipan tentang Operasi Alpha yang diambil dari buku otobiografi Djoko F Poerwoko “Menari di Angkasa”.
      Operasi Alpha
      Memasuki tahun 1979, isu tentang bakal dilakukannya pergantian kekuatan pesawat-pesawat tempur TNI AU sudah mulai bergulir. Hal ini sebenarnya wajar saja, mengingat kondisi pesawat tempur F-86 Sabre dan T-33 Thunderbird memang sudah tua.
      http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/8f/TNIAU_F86.png/800px-TNIAU_F86.png http://i186.photobucket.com/albums/x157/imbang76/langit/t-33-04.jpg
      Keterangan gambar atas (klik untuk memperbesar): pesawat tempur milik TNI AU yang sudah tua, F-86 Sabre (kiri) dan T-33 Thunderbird (kanan).
      Karena kedua jenis pesawat tersebut sudah tua, sehingga kemudian pemerintah harus mencari negara produsen yang bisa menjual pesawatnya dengan segera. Amerika Serikat ternyata bisa memberikan 16 pesawat F-5 E/F Tiger II. Tetapi ini masih belum cukup untuk mengisi kekosongan skadron-skadron tempur Indonesia.
      Dari penggalian intelijen, Mabes ABRI ternyata kemudian mendapatkan berita bahwa Israel bermaksud akan melepaskan armada A-4 yang mereka miliki. Indonesia dan Israel memang tidak memiliki hubungan diplomatik.
      Tetapi pada sisi lain, pembelian armada pesawat tersebut akhirnya terus diupayakan secara klandestin (rahasia), oleh karena pasti akan menjadi polemik dalam masyarakat apabila tersiar di media massa.
      Menuju Arizona, Amerika Serikat
      Usai tugas menerbangkan F-86 Sabre aku sempat terbang lagi dengan T-33. Namun pada kenyataannya, kondisi kedua pesawat tempur tersebut sudah sangat jauh menurun. Kami semua akhirnya bersyukur, setelah dibuka dua proyek besar untuk mendatangkan kekuatan baru melalui Operasi Komodo yakni pesawat Northrop F-5 E/F Tiger II, sertaOperasi Alpha untuk menghadirkan pesawat A-4 Skyhawk.
      pesawat A4 Skyhawk dan F5 Tiger
      Kerahasiaan tingkat tinggi sudah terlihat dari tata cara pemberangkatan personel. Saat kami semua sudah siap untuk berangkat, tidak seorang pun tahu, kemana mereka harus pergi.
      Operasi Alpha dimulai dengan memberangkatkan para teknisi Skadron Udara 11. Setelah tujuh gelombang teknisi, maka berangkatlah rombongan terakhir yang terdiri dari sepuluh penerbang untuk belajar mengoperasikan pesawat.
      Sebagai tim terakhir, kami mendapat pembekalan secara langsung di Mabes TNI AU. Awalnya hanya mengetahui bahwa para penerbang akan berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar terbang disana sedangkan informasi lainnya masih sangat kabur.
      Setelah mengurus segala macam surat-surat dan beragam kelengkapan berbau “Amerika”, akhirnya kami berangkat menuju Singapura, dengan menggunakan penerbangan Garuda Indonesia dari Bandara Halim Perdanakusuma.
      http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7a/Ew8_Paya_Lebar.jpg/320px-Ew8_Paya_Lebar.jpg
      Bandara Paya Lebar Singapura
      Kami mendarat pada senja hari di Bandara Paya Lebar, Singapura, langsung diantar menuju hotel Shangrila.
      Di hotel tersebut ternyata telah menunggu beberapa petugas intel dari Mabes ABRI, berikut sejumlah orang yang masih asing dan sama sekali tidak saling dikenalkan.
      Kami akhirnya mulai menemukan jawaban bahwa arah sebenarnya tujuan kami bukanlah ke Amerika Serikat melainkan ke Israel. Sebuah negara yang belum terbayangkan keadaannya dan mungkin paling dibenci oleh masyarakat Indonesia.
      Saat itu salah satu perwira BIA (Badan Intelijen ABRI, BAIS sekarang) yang telah menunggu, segera mengambil semua paspor yang kami miliki dan mereka ganti denganSurat Perintah Laksana Paspor (SPLP). Keterkejutanku semakin bertambah dengan kehadiran Mayjen Benny Moerdani, waktu itu kepala BIA, mengajak rombongan kami makan malam.
      Dalam kesempatan tersebut beliau dengan wajah dingin dan kalimat lugas, tanpa basa-basi langsung saja mengatakan:
      ”Misi ini adalah misi rahasia, maka yang merasa ragu-ragu, silahkan kembali sekarang juga. Kalau misi ini gagal, negara tidak akan pernah mengakui kewarganegaraan kalian. Namun, kami tetap akan mengusahakan kalian semua bisa kembali dengan jalan lain. Misi ini hanya akan dianggap berhasil, apabila ‘sang merpati ‘ (pesawat yang dibeli – pen.) telah hinggap…”
      Mendengar ucapan beliau, perasaanku langsung bergetar! Wah, ini sudah menyangkut operasi rahasia beneran mirip James Bond, bahkan sekalanya lebih besar!
      http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/9d/Leonardus_Benyamin_Moerdani.jpg
      Leonardus Benyamin Moerdani (wikipedia)
      Bagaimana mungkin membawa satu armada pesawat tempur masuk ke Indonesia tanpa diketahui orang?
      Rasa terkejut semakin besar, oleh karena kami bersepuluh kemudian langsung berganti identitas yang mesti kuhapal diluar kepala saat itu juga.
      Setelah acara makan malam di hotel, kami harus segera bergegas kembali menuju Bandara Paya Lebar Singapura dan terbang menuju Frankfurt dengan menggunakan Boeing 747 Lufthansa.
      Mulai sekarang, kami tidak boleh bertegur sapa, duduk saling terpisah, namun masih dalam batas jarak pandang.
      Begitu mendarat di Bandara Frankfurt, kami harus berganti pesawat lagi untuk menuju Bandara Ben Gurion di Tel Aviv, Israel. Perjalanan semakin aneh, baru saja berdiri bengong karena masih jet lag, tiba-tiba seseorang langsung menyodorkan boarding passuntuk penerbangan berikutnya tersebut, yaitu ke Tel Aviv.
      Sampai di Bandara Ben Gurion Tel Aviv sesudah terbang sekitar empat jam, aku pun turun bersama para penumpang lain dan teman-temanku. Saling pandang dan cuma melirik saja, harus kemana jalan, cuma mengikuti arus penumpang lain yang menuju pintu keluar.
      Tetapi tanpa terduga, sebagai bagian dari operasi intelijen, kami malah mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Karena kami langsung ditangkap dan digiring petugas keamanan bandara Ben Gurion!
      Hanya bisa pasrah, oleh karena memang tidak tahu skenario apalagi yang harus dijalankan, yang ada hanya manut saja dengan hati berdebar.
      http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/89/David_Ben-Gurion_Airport.JPG/320px-David_Ben-Gurion_Airport.JPG
      Bandara Ben Gurion Tel Aviv, Israel
      Tamatlah riwayatku kini. Kubayangkan, betapa hebatnya agen rahasia Mossad yang dapat dengan cepat mengendus penumpang gelap tanpa paspor yang berusaha menyelundup masuk ke negaranya.
      Meski dengan sopan si Mossad memperlakukan kita, namun tetap saja kami berpikiran buruk.
      Kami semua akan langsung dideportasi atau dihukum mati minimal dipenjara seumur hidup. Sebab tidak ada bukti, siapa yang memberi perintah datang ke Israel.
      Sampai diruang bawah tanah, perasaan kami tenang setelah melihat para perwira BIA yang dilibatkan dalam Operasi Alpha ada disana. Kemudian baru aku tahu, kami memang sengaja di-skenario-kan untuk ditangkap dan justru bisa lewat ‘jalur khusus’ guna menghindari public show apabila harus ke luar lewat jalur umum.
      Kami langsung menerima brifing singkat mengenai berbagai hal yang harus diperhatikan selama berada di Israel. Yang tidak enak adalah kegiatan sesudahnya yaitu sweepingsegala macam barang bawaan yang berlabel made in Indonesia.
      Kami juga diajarkan untuk menghapal sejumlah kalimat bahasa Ibrani, “Ani tayas mis Singapore” yang artinya aku penerbang dari Singapura. Ada sapaan “boken tof ” berarti selamat pagi dan shallom sebagai sapaan saat bertemu dengan kawan.
      Eliat, Pangkalan Udara Rahasia
      Semalam tidur di hotel, kami kemudian diangkut dalam satu mobil van menuju arah selatan menyusuri Laut Mati. Setelah dua hari perjalanan, kami sampai dikota Eliat.
      eilat_israel mapPerjalanan dilanjutkan kembali ditengah padang pasir, setelah melewati beberapa pos jaga, akhirnya van masuk ke sebuah pangkalan tempur besar diwilayah barat kota Eliat.
      Di Israel, pangkalan tidak pernah memiliki nama pasti. Nama pangkalan hanya berupa angka dan bisa berubah.
      Bisa saja nama pangkalan itu adalah base number nine dihari tertentu, namun esoknya bisa diganti dengan angka lain. Sesuai kesepakatan bersama, kami menyebut tempat ini dengan ‘Arizona’ oleh karena dalam skenario awal kami memang disebutkan akan berlatih terbang di Amerika.
      Total waktu rencana pelatihan selama empat bulan. Selama itu para penerbang melaksanan kegiatan pelatihan, dari ground school hingga bina terbang, agar mampu mengendalikan pesawat A-4 Skyhawk. Latihan terbang diawali dengan general flyingsebanyak dua jam, ditemani instruktur Israel.
      Setelah itu, kami semua sudah boleh terbang solo. Latihan kemudian dilanjutkan dengan pelajaran yang lebih tinggi tingkat kesulitannya. Kali ini kami harus mampu mengoperasikan pesawat A-4 sebagai alat perang.
      Selama di Eliat, walau terjadi berbagai macam masalah, namun tidak sampai mengganggu kelancaran latihan. Masalah utama tentunya bahasa, sebab tidak semua penerbang Israeli Air Force (IAF) bisa berbahasa Inggris, sedangkan kami tidak diajari berbahasa Ibrani secara detail.
      Masalah lain adalah telalu ketatnya pengawasan yang diberlakukan kepada para penerbang. Bahkan kami semua selalu dikawani satu flight pesawat tempur selama berlatih.
      http://www.aereo.jor.br/wp-content/uploads//2012/11/AIR_A-4N_Skyhawks_Israeli_lg.jpg
      A-4 Skyhawk, Israeli Air Force (IAF) sedang bermanufer (aereo.jor.br)
      Pelajaran terbang yang efektif. Misalnya terbang formasi tidak perlu jam khusus tetapi digabung latihan lain seperti saat terbang navigasi atau air to air, sehingga dengan jam yang hanya diberikan sebanyak 20 jam/20 sorti, kami semua dapat mengoperasikan A-4 sebagai alutsista.
      Dalam siklus ini pula, aku pernah menembus sistem radar Suriah dengan instruktur ku!
      Latihan terbang kami berakhir tanggal 20 Mei 1980 dengan dihadiri oleh beberapa pejabat militer Indonesia yang semuanya hadir dengan berpakaian sipil. Kami mendapat brevet penerbang tempur A-4 Skyhawk dari IAF. Rasanya bangga, oleh karena kami dididik penerbang paling jago di dunia.
      Namun kegembiraaan selesai pendidikan segera berubah sedih, oleh karena brevet dan ijazah langsung dibakar didepan mata kami oleh para perwira BIA yang bertindak sebagai perwira penghubung.
      Kami dikumpulkan di depan mess dan barang-barang kami disita lalu segera dibakar. Termasuk brevet, peta navigasi, catatan pelajaran selama dipangkalan ini. Mereka hanya berpesan, tidak ada bekas atau bukti kalau kalian pernah kesini. Maka hapalkan saja dikepala semua pelajaran yang pernah diperoleh!
      Wing Day di Amerika
      Selesai pendidikan di Israel, kami tidak langsung pulang ke Indonesia, namun diterbangkan dulu ke New York. Semalam di New York, kemudian diajak ke Buffalo Hill di dekat air terjun Niagara.
      http://media-cdn.tripadvisor.com/media/photo-s/01/c8/f6/ca/1-block-to-the-falls.jpg
      Air terjun Niagara Falls (tripadvisor.com)
      Ternyata kami sengaja dikirim kesana untuk bisa melupakan kenangan tentang Israel. Kami diberi uang saku yang cukup banyak menurut hitungan seorang Letnan Satu.
      Aku juga dibelikan kamera merek Olympus F-1 lengkap dengan filmnya dan diwajibkan mengambil foto-foto dan mengirim surat atau kartu pos ke Indonesia untuk menguatkan alibi, bahwa kami semua benar-benar menjalani pendidikan terbang di AS.
      Akhirnya selama ada objek yang menunjukkan tanda medan atau bau AS, pasti langsung dipakai sebagai background foto. Tidak terkecuali pintu gerbang hotel, nama toko bahkan sampai tong sampah bila ada tulisan United State of America pasti dijadikan sasaran foto.
      Aku dibawa lagi ke New York, para penerbang kemudian diberikan program tur keliling AS selama dua minggu, mencoba tidur di sepuluh hotel yang berbeda dan mencoba semua sarana transportasi dari pesawat terbang hingga kapal, wow!
      http://www.airshowactionphotography.com/yuma06/yuma06_084.jpg
      Yuma Air Station – Northrop F-5E ‘Tiger’ VMFT-401 USMC MCAS Yuma, Arizona USA (airshowactionphotography.com)
      Di Yuma, Arizona, kami telah diskenariokan masuk latihan di pangkalan US Marine Corps (USMC), Yuma Air Station. Tiga hari dipangkalan tersebut, kami dibekali dengan pengetahuan penerbangan A-4 USMC, area latihan dan mengenal instrukturnya.
      Kami juga wajib berfoto, seakan-akan baru diwisuda sebagai penerbang A-4, sekaligus menerima ijasah versi USMC. Ini sebagai penguat kamuflase intelijen, bahwa kami memang dididik di AS. Salah satu foto wajib adalah berfoto di depan pesawat-pesawat A-4 Skyhawk USMC!
      Sebelum pulang ke tanah air, aku juga mendapat perintah untuk menghapalkan hasil-hasil pertandingan bulu tangkis All England. Tambahannya, aku juga diharapkan menghapal beberapa peristiwa penting yang terjadi di dunia, selama aku diisolasi di Israel. Pelajaran mengenai situasi dunia luar tersebut terus diberikan, meskipun kami sudah berada di perut pesawat Branif Airways dengan tujuan Singapura.
      rute perjalanan operasi alpha
      Sang Merpati Hinggap
      Tanggal 4 Mei 1980, persis sehari sebelum pesawat C-5 Galaxy USAF mendarat di Lanud Iswahyudi Madiun yang mengangkut F-5 E/F Tiger II dan paket A-4 Skyhawk gelombang pertama, terdiri dua pesawat single seater dan dua double seater tiba di Tanjung Priok.
      Pesawat-pesawat tersebut diangkut dengan kapal laut langsung dari Israel, dibalut memakai plastik pembungkus, cocoon berlabel F-5. Dengan demikian, seakan-akan menjadi satu paket proyek kiriman pesawat terbang, namun diangkut dengan media transportasi berbeda.
      TNIAU_f5 Tiger 01
      Nantinya ketika sudah kembali lagi di Madiun, kepada atasan pun kukatakan bahwa pelatihan A-4 adalah di Amerika. Sebagai bukti kuperlihatkan setumpuk fotoku selama berada di Amerika. Ingin melihat foto New York, aku punya. Mau melihat foto Akademe AU di Colorado, aku punya.
      Karena percaya, atasanku di Wing-300 malah sempat berkata, “Saya kira tadinya kamu belajar A-4 di Israel, enggak tahunya malah di Amerika. Kalau begitu isu tersebut enggak benar ya?”
      Last but not least, gelombang demi gelombang pesawat A-4 akhirnya datang ke Indonesia setiap lima minggu, lalu semuanya lengkap sekitar bulan September 1980.
      TNIAU_A4 Skyhawk 01
      Berprestasi Tapi Harus Menutup Diri
      Saat F-5 datang ke Indonesia, ternyata masih belum dilengkapi dengan persenjataan. Sedangkan A-4 justru sudah dipersenjatai dan langsung bisa digunakan dalam tugas-tugas operasional. Sehingga apa saja kegiatan TNI AU baik operasi maupun latihan selalu identik dengan F-5, walau kadang-kadang yang melakukannya adalah pesawat A-4.
      A-4 tetaplah A-4 dan samasekali bukan F-5. Kondisi serba rahasia bagi armada A-4 bertahan sampai perayaan HUT ABRI tanggal 5 Oktober 1980, dimana fly pass pesawat tempur ikut mewarnai acara tersebut.
      Pesawat A-4 tampil bersama-sama F-5 dimana untuk pertama kalinya pesawat A-4 dipublikasikan dalam event besar. Setelah ini, sedikit demi demi sedikit mulailah keberadaan A-4 dibuka secara jelas. Tidak ada lagi tabir yang sengaja dipakai untuk menutupi keberadaan pesawat A-4 di mata rakyat Indonesia.
      f-5 tiger tni au
      Mencari detail tentang Operasi Alpha susahnya minta ampun, karena tidak ada penerbang yang berangkat ke Israel selain Djoko Poerwoko yang mau menceritakan pengalamannya. Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk beliau yang mau menceritakan pengalamannya didalam 3 buku, walaupun mencari buku tersebut juga susahnya bukan main.
      Buku “My Home My Base” hanya untuk kalangan internal TNI AU, Buku “Fit Via Vi” yang merupakan otobiografi dari beliau juga masih merupakan cetakan untuk kalangan terbatas.
      Buku “Menari di Angkasa” adalah buku “Fit Via Vi” yang dicetak untuk umum, walaupun begitu tetep aja susah nyarinya (saya merasa beruntung memilikinya). Bahkan dibuku otobiografinya Benny Moerdani tidak dibahas sama sekali.
      Terimakasih juga untuk Metro TV yang beberapa bulan lalu juga menayangkan tentang Operasi Alpha dalam acara Special Operation (di liputan tersebut ada wawancara dengan Djoko Poerwoko dan satu orang pilot lagi, tapi lupa namanya).
      sky-hawk tni au
      Kontroversi tentang pengungkapan pembelian A-4 dari Israel ke publik juga diungkap oleh beliau dibukunya, beliau menulis:
      “Saat buku ‘My Home My Base’ diluncurkan, ada polemik yang menyisakan kenangan, yaitu cerita tentang keterlibatan ke Israel untuk mengambil A-4 Skyhawk. Banyak orang mempertanyakan, mengapa aku mengumbar rahasia negara. Dengan singkat hanya kujawab, “Siap, saya sudah minta ijin KASAU dan beliau mengijinkan, karena kita sebagai prajurit tidak boleh selamanya membohongi rakyat. Maka mereka yang bertanya pun tidak lagi berkomentar.
      Memang, didalam buku “My Home My Base” kutulis sedikit tentang perjalanan ke Israel untuk berlatih terbang A-4. Bukan untuk mencari sensasi, aku sudah menimbangnya masak-masak untung dan ruginya.
      pilotNamun sebelumnya, tentu saja aku minta ijin KASAU sebagai salah satu senior A-4 dan pemimpin tertinggi Angkatan Udara.
      Beliau (pak Hanafie) ternyata mengizinkan, sehingga tulisan itu go ahead.”
      Untuk generasi sekarang, mungkin banyak yang masih bingung, mengapa dan apa istimewanya operasi ini.
      Mungkin mereka tak merasakan bahwa Indonesia tak ada hubungan bilateral dengan Israel sejak awal merdeka, apalagi hubungn diplomatik ataupun hubungan politik, tak pernah terjadi.
      Sebagai informasi tambahan, hingga saat ini bahkan setelah A-4 di grounded pada tahun 2004, Mabes TNI AU tidak pernah mengakui operasi alpha pernah terjadi!
      (Sumber : Poerwoko, Djoko F / Menari di Angkasa / Kata Hasta Pustaka / Jakarta. 2007)
      TNIAU_Sabre
      Pilot tempur AURI berpose bersama dengan latar belakang pesawat tempur F-86 Sabre
    • Posted by Hashfi Kamerad Shivers
    • 0 Comments
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Pertempuran Udara Al-Mansurah, Prestasi Gemilang Mesir atas Israel

    • Waktu   : 14 Oktober 1973
      Tempat : Delta Nil, Mesir
      Hasil     : Kemenangan Mesir

      Kekuatan: 

      -Mesir : 62 MiG-21
      -Israel : 160 F-4 Phantom dan A-4 Skyhawk

      Komandan

      Hosni Mubarak, Komandan AU Mesir (Kelak menjadi penerus Anwar Saddat sebagai Presiden Mesir).
      Hosni Mubarak, Komandan AU Mesir (Kelak menjadi penerus Anwar Saddat sebagai Presiden Mesir).

      Benjamin "Benny" Peled, komandan AU Israel.
      Benjamin "Benny" Peled, komandan AU Israel.


      Pertempuran Udara Al Mansurah adalah sebutan dari Mesir untuk pertempuran udara yang berlangsung selama Perang Yom Kippur antara Angkatan Udara Mesir (EAF) dan Angkatan Udara Israel (IAF) di dekat kota El Mansoura, di Delta Nil.

      Angkatan udara Israel melancarkan serangan udara pada 14 Oktober ke pangkalan udara Mesir di Tanta dan Mansoura. Pesawat Israel terdeteksi mendekati dari Laut Mediterania. 104th Air Wing dari angkatan udara Mesir menyebar pesawat tempurnya, serta menerima bala bantuan tambahan dari pangkalan udara lainnya. Pertempuran udara mulai pukul 15:15 dan berlangsung 53 menit. Komandan Mesir adalah Hosni Mubarak. Menurut sumber-sumber Mesir, beberapa pesawat tempur Israel jatuh, meskipun hal ini dibantah oleh sumber-sumber Israel.


      MiG-21 AU Mesir
      MiG-21 AU Mesir

      Latar Belakang

      104th Air Wing memiliki tiga skuadron dilengkapi dengan pesawat tempur MiG-21MF; dua skuadron ditempatkan di Mansoura, bertugas sebagai pencegat dan pertahanan udara, dan ketiga ditempatkan di pangkalan udara Tanta untuk mempertahankan kedua pangkalan udara. AU Israel telah membuat beberapa serangan terhadap pangkalan udara Mansoura dari 6 Oktober dan seterusnya, namun gagal karena rapatnya arsenal pertahanan udara Mesir.

      Saat fajar pada tanggal 14 Oktober, ketika pasukan Mesir mendapat kemajuan di Sinai Mitla dan Jalur Gedy, pasukan darat diberi dukungan udara oleh MiG-17, Su-7, Su-20 dan pembom tempur Mirage III. Ini pada gilirannya diberi perlindungan oleh MiG-21. Meskipun serangan Mesir pada tanggal 14 Oktober berujung pada kegagalan dan mencapai puncaknya pada kerugian besar, AU Israel bertekad untuk menghancurkan kemampuan Air Wing 104th. Sebuah serangan udara besar-besaran akan diluncurkan terhadap pangkalan udara di Salihiya, Mansoura dan Tanta.

      Sebagai buntut dari Perang Enam Hari, saat AU Mesir kehilangan hampir semua pesawat di darat pada serangan pre-emptive Israel, Mesir membangun 500 tempat pelindungan pesawat dari beton di 20 pangkalan udara utama untuk mencegah pesawat dari kehancuran di darat dalam konflik di masa depan .

      Pada tanggal 14 Oktober, ketika Mesir maju dari front mereka sepanjang Terusan Suez, sebuah serangan udara Israel diperkirakan akan datang ditujukan terhadap pangkalan udara Mansoura cepat atau lambat, dan akibatnya sejumlah MiG-21 bersiaga penuh di landasan pacu dengan pilot mereka, siap untuk segera lepas landas. Pada 15:00, masih belum ada indikasi serangan musuh yang akan datang.


      F-4 Phantom AU Israel
      F-4 Phantom AU Israel

      Kronologi

      Pukul 15:15, pos pengamatan udara di Laut Mediterania memberitahu AU Mesir bahwa 20 F-4 Phantom mendekat dari ke arah barat menuju Delta, terbang di atas Port Said. Komandan AU Mesir, Marsekal Hosni Mubarak memerintahkan Jenderal Naser menyebar 16 MiG-21. Perintah AU Mesir percaya pesawat musuh hanya umpan dimaksudkan untuk menarik MiG-21 agar jauh dari pangkalan udara, sehingga gelombang lebih lanjut dari pesawat AU Israel bisa menyerang pangkalan udara tanpa gangguan. Oleh karena itu pilot pesawat tempur diperintahkan untuk membuat payung pelindung di atas pangkalan udara. Yang paling penting, mereka diperintahkan untuk tidak mengejar dan menghajar pesawat musuh sebelum mereka mencapai target mereka.

      Para pilot bingung dengan perintah, tidak tahu alasan di balik itu, karena mereka diharapkan untuk segera menghajar pesawat musuh setelah disebar. Dalam peristiwa tersebut, pesawat tempur Israel terus terbang berputar untuk beberapa waktu sampai, ketika tahu AU Mesir tidak akan meninggalkan daerah sekitar pangkalan udara Mansoura, Phantom mundur kembali ke arah laut.

      Pukul 15:30, Komando Pertahanan Udara Mesir mengeluarkan peringatan bahwa sekitar enam puluh pesawat musuh yang mendekat dari Laut Mediterania dari tiga arah; salah satu dari Port Said, satunya lagi dari Damietta, dan yang ketiga dari Baltim, di sebelah barat Damietta. Mubarak memerintahkan pilot di udara untuk mencegat mereka. 16 MiG-21 membentuk payung udara di atas Mansoura bergerak terhadap pesawat Israel dengan tujuan melmecah formasi musuh dan membubarkannya. 16 MiG-21 lepas landas dari pangkalan udara Mansoura untuk mendukung mereka di udara, bersama dengan delapan pesawat tempur dari pangkalan udara Tanta, terletak di sebelah barat Mansoura. MiG-21 mencegat formasi pesawat Israel belasan kilometer utara dari Mansoura.

      Pada 15:38, instalasi radar Mesir memberitahu AU Mesir bahwa gelombang kedua sekitar 16 pesawat Israel datang dari atas Mediterania pada ketinggian sangat rendah. Pilot Mesir bergegas menuju delapan MiG - 21 di Mansoura, sementara delapan MiG-21 dari pangkalan udara Abu Hamad dipanggil untuk membantu. Berikutnya pertempuran udara sangat intens, melibatkan sejumlah besar pesawat. Pada satu titik, pertempuran melibatkan 62 MiG-21 dengan 120 F-4 Phantom dan A-4 Skyhawks. Beberapa pesawat pembom tempur Israel mencapai sasaran mereka dan membom landasan pacu dan pertahanan udara di sekitar pangkalan udara. Sementara delapan pesawat terakhir dari Mansoura lepas landas, pesawat Israel mendekat untuk membom landasan. Nasr Mousa, pilot salah satu dari delapan MiG-21, melihat sebuah phantom Israel mengejarnya. Mousa membuat gerakan tiba-tiba, yang membuat posisinya berada di belakang Phantom. Dia menembak jatuh Phantom dengan tembakan senapan mesin pesawat, dan tidak ada parasut muncul. Medhat 'Arafa, seorang pilot Mesir, mengingat "Pertempuran ini adalah pemandangan menakutkan karena saya belum pernah melihat begitu banyak pesawat di satu daerah . Kami tidak hanya dogfighting (Kejar-kejaran), tetapi juga memperingatkan pilot lain bahwa mereka diikuti musuh di belakang mereka...". Phantom Israel harus membuang muatan bom mereka untuk bertempur dengan pesawat MiG yang lebih lihai bermanuver. Pilot Mesir harus mendaratkan pesawat mereka, dipersenjatai kembali, mengisi bahan bakar dan lepas landas lagi dalam waktu tujuh menit. Lepas Landas biasanya butuh waktu tiga menit, tetapi menurut Naser, pilot mampu melakukannya dalam satu hingga setengah menit selama pertempuran udara.

      A-4 Skyhawk AU Israel
      A-4 Skyhawk AU Israel

      Pada 15:52, radar mendeteksi gelombang lain dari pesawat musuh, diperkirakan ada hingga 60 F-4 Phantoms dan A-4 Skyhawks menuju pangkalan udara. Delapan MiG-21s dari 102nd  Air Wing lepas landas dari pangkalan udara Inshas, dekat Kairo. Sekitar 20 MiG-21s yang mendarat, mengisi bahan bakar dan dipersenjatai kembali di pangkalan udara Mansoura juga segera dalam perjalanan untuk mencegat pesawat Israel. Sebuah pertempuran udara berkecamuk atas desa Delta Nil, Dekernis, di mana pesawat Israel yang mundur ke arah timur dikejar oleh pesawat Mesir. Sebuah pertempuran udara terjadi atas desa ini antara gelombang terakhir pesawat Israel dan mencegat MiG-21 Mesir. Komandan dari gelombang terakhir pesawat Israel, menyadari bahwa gelombang sebelumnya telah gagal dalam melaksanakan tujuan mereka dan ada lebih banyak pesawat Mesir di udara dari yang diharapkan, memutuskan untuk mundur. 

      16:08, pesawat Israel terakhir meninggalkan wilayah udara mesir. Dan pertempuran berakhir.


      Berbagai Klaim

      Pukul 22.00 waktu setempat Radio Kairo menyiarkan "Komunike Nomor 39", mengumumkan beberapa pertempuran udara hari itu di beberapa lapangan udara Mesir, yang paling intensif atas wilayah Delta Utara. Ini menyatakan bahwa 15 pesawat musuh telah ditembak jatuh oleh pesawat tempur Mesir serta Mesir kehilangan 3 pesawat, termasuk pesawat Israel ditembak jatuh dekat Terusan Suez.

      Keesokan harinya, 15 Oktober, Radio Israel mengklaim bahwa IAF telah menembak jatuh pesawat lima belas Mesir, yang kemudian jumlahnya dikurangi menjadi tujuh pesawat.

      Sumber: Wikipedia
    • Posted by Hashfi Kamerad Shivers
    • 6 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Serangan ke H3, Serangan Iran atas Irak

    • Jenderal Hooshyar, otak serangan ke H3
      Jenderal Hooshyar, otak serangan ke H3

      Serangan ke H3 adalah serangan mendadak oleh Iran selama Perang Iran-Irak pada April 1981, melawan Angkatan Udara Irak di pangkalan udara H3. Serangan tersebut dikatakan sukses karena selain menimbulkan kehancuran besar pada AU Irak, AU Iran berhasil mencapai wilayah H3 yang sangat jauh dari perbatasan Irak-Iran, mematahkan mitos wilayah Irak dalam aman dari serangan Iran.

      F-5 Tiger
      F-5 Tiger

      Operasi
      Dalam upaya Saddam untuk serangan yang sukses terhadap Iran di bagian depan utara antara 12 dan 22 Maret 1981, Irak menembakkan dua Roket permukaan-ke-permukaan 9K52 Luna-M terhadap kota Dezful dan Ahwaz. Dalam beberapa hari setelah serangan ini, komandan Taktis Wing Fighter 31 dan ke-32 di Shahrokhi Tactical Air Base (TAB 3, dekat Hamadan) merencanakan serangan balik. Menurut intelijen Iran, Angkatan Udara Irak menghapus sebagian besar aset berharganya ke pangkalan udara Al-Wallid pada jalan raya Baghdad-Amman dekat perbatasan Yordania, bagian dari kompleks H-3. Ada setidaknya dua skuadron dilengkapi dengan sepuluh Tu-22B dan setidaknya enam Tu-16 pembom berat serta dua unit lainnya dengan MiG-23BNs dan Su-20 yang tersembunyi, jauh dari jangkauan Angkatan Udara Iran. Untuk operasi menyerang Al-Wallid, Wings Tactical Fighter 31 dan ke-32 (TFW) dipekerjakan awak F-4E Phantom, empat Tomcat F-14A, satu Boeing 747 pos komando udara dan tiga pesawat tanker Boeing 707 . Iran telah mencatat bahwa pencegat dari pertahanan udara Irak biasanya tidak terlalu aktif, terutama di Irak Utara, sehingga rencana dibuat untuk mendekati situs Irak dari arah itu. Selain pencegat Irak, pilot Iran harus berhati-hati untuk menghindari SAM supaya dapat mencapai target mereka. Al-Wallid hampir 1.500 kilometer dari Hamadan, dan Phantom harus terbang di atas Baghdad.

      Peta Operasi Serangan ke H3
      Peta Operasi Serangan ke H3

      Untuk meningkatkan peluang mereka, komandan Iran memutuskan untuk menggunakan pesawat mereka ke Tabriz (TAB 2) pertama-tama, dan kemudian dari sana mereka akan memiliki rute aman lewat Mosul dan Kirkuk menuju H-3. Karena Phantom tidak bisa mencapai target mereka tanpa pengisian bahan bakar di udara, dua Boeing 707-3J9C harus dikirim ke Turki untuk membantu operasi dengan memenuhi penyerang suatu tempat di Irak utara.

      F-4 Phantom Mengisi bahan bakar di Boeing 707
      F-4 Phantom Mengisi bahan bakar di Boeing 707

      Operasi dimulai pada dini April 4,1981. Sebuah formasi delapan F-4E, didampingi dua cadangan udara dimulai dari Tabriz (TAB 2) dan menyeberang ke Irak. Dua pasang F-14 Tomcat tinggal di ketinggian rendah di atas perbatasan menunggu mereka kembali. Beberapa waktu sebelumnya, dua pesawat Boeing 707 mulai dari Bandara Internasional Istanbul di Turki (resminya untuk kembali ke Iran) dan secara sembunyi-sembunyi dialihkan dari rute komersial internasional untuk terbang ke Irak. Terbang di ketinggian yang sangat rendah antara pegunungan Irak utara-barat, dua pesawat tanker memenuhi formasi phantom dan mengisikan bahan bakar mereka, sebelum melarikan diri tanpa insiden kembali ke Tabriz. F-4 kemudian menuju kompleks H3 Irak. Tidak ada satupun pencegat Irak pada tiga basis dari kompleks H-3 berada, serangan pun siap dimulai.

      F-5 Tiger AU Iran
      F-5 Tiger AU Iran

      Phantom memecah formasi mereka menjadi dua bagian datang dari beberapa arah yang berbeda dan menyerang bagian yang berbeda dari kompleks. Pertama, mereka membom kedua landasan pacu di Al-Wallid untuk memblokir setiap pesawat tempur Irak yang akan lepas landas. Selain itu, bom digunakan untuk menghancurkan beberapa tempat penampungan pesawat. Sementara itu bom cluster dari kelompok kedua Phantom merusak tiga hangar besar, dua stasiun radar dan lima pembom Irak. Selanjutnya, yang lain memberondong pesawat yang diparkir. Irak masih belum bereaksi, tembakan anti-pesawat mereka lemah, dan Phantom punya cukup waktu untuk membuat beberapa serangan dan memukul pesawat Irak berganda dengan tembakan. Iran mengklaim bahwa 48 pesawat Irak hancur atau rusak parah pada akhir serangan.

      Setelah serangan formasi Iran berbalik arah ke pangkalan mereka sendiri. Tidak ada pesawat F-4E Iran rusak selama serangan terhadap Al-Wallid dan meskipun banyak pencegat Irak bergegas ke arah mereka, tidak ada yang bisa mengejar Phantom.

      Serangan Iran ke Al-Wallid merupakan operasi paling sukses Iran terhadap pangkalan udara sejak tahun 1967. Delapan pesawat berhasil menghancurkan sejumlah besar pesawat musuh di darat dalam satu misi.

      Kehancuran di Salah Satu Kompleks H3
      Kehancuran di Salah Satu Kompleks H3

      Komando pertahanan udara Irak kemudian mengklaim bahwa pencegat Suriah membantu Iran selama serangan itu, dan radar mereka mengikuti Phantom sekitar 67 menit.


      Serangan ke H3

      Lingkup operasional: Strategis
      Lokasi                   :  Lapangan Udara Al-Walid, Irak
      Direncanakan oleh  :  Mayor Jenderal Javad Fakoori (komandan IRIAF), Jenderal Hooshyar.
      Tujuan                  :  Menghancurkan pesawat militer Irak
      Waktu                   :  4 April 1981
      Dilaksanakan oleh   : Angkatan Udara Republik Islam Iran
      Hasil                      : Kehancuran besar Angkatan Udara Irak

      Korban:

      -3 Antonov An-12

      -1 Tupolev Tu-16

      -9 Sukhoi Su-17

      -4 Mikoyan-Gurevich MiG-21

      -18 Mikoyan-Gurevich MiG-23

      -5 Dassault Mirage F1

      -4 helikopter

      Wikipedia.org
    • Posted by Hashfi Kamerad Shivers
    • 0 Comments
    • Tag :
    • Readmore . . .
    • Add Comment

Popular Post

Labels

Followers

Likenya Shivers =3

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © 2013 Hashfi Tobing a.k.a DJ William Vendetta - Oreshura - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -